Tuesday, 30 June 2009

Mursyid dan Penting Baiat


Macamana hendak mengenali seseorang samada bertahap "Mursyid" dan apa peranannya kepada seseorang dalam peribadatan bersuluk atau beruzlah itu?.Dan apa pentingnya berbaiat dengan "Musyid" itu.
Dalam sebuah hadits dikatakan bahwa “Allah adalah guru sejati bagi setiap mukmin”. Artinya sesungguhnya guru sejati kita dalam menuju-Nya hanyalah Dia. Bukan seorang makhluk siapapun itu. Dia yang akan membimbing dan Dia pula yang akan memberi petunjuk, setahap demi setahap dalam jatuh bangun menuju-Nya. Untuk itulah dikatakan dalam QS 5:16, bahwa Dia hanya akan memberi petunjuk kepada orang yang menuju ke-ridlaan-Nya. Hal ini dipertegas dalam QS 29:69.

Namun demikian rupanya bersuluk (berjalan menuju Allah) sangatlah berbahaya. Imam Al Ghazaly mengatakannya sebagai jalan yang curam, licin lagi gelap.

Itulah mengapa Rasulullah SAW berkata: “Seandainya seseorang tahu betapa berbahayanya berjalan di tengah malam tentu ia tidak akan berjalan sendirian”.

Curam, licin dan gelap nya perjalanan tersebut, bertambah “berbahaya” dengan selalu mengintainya syaithan. Sungguh syaithan adalah musuh yang nyata, dan mereka tidak pernah ridla ketika ada seorang hamba ingin mendekatkan diri kepada Allah. Dengan berbagai cara - dari yang kasar sampai yang sangat halus - dilakukannya untuk menyesatkan manusia agar tidak dapat kembali ke Shirath Al Mustaqiim (jalan Allah).

Karenanya Rasulullah SAW pernah pula bersabda bahwa syaithan mengintai dan akan menerkam anak domba yang lepas dari rombongannya.

Kepentingan kita bertemu dengan seorang mursyid adalah:

1. Sebagai pemandu, seperti pemandu jalan ditengah gelapnya malam.

Mungkin akan timbul pertanyaan, kenapa perlu dipandu, bukankah cukup Allah sebagai pembimbing? Jawabannya adalah, bahwa sebuah proses suluk seperti proses pertumbuhan seorang manusia. Lahir sebagai bayi kemudian semakin besar, besar dan dewasa. Ketika si anak masih bayi, ia belum dapat membedakan antara sebuah bola pimpong yang berwarna merah jambu dengan kue apem yang sama warnanya.

Demikian pula dalam bersuluk. Ketika seorang mulai tekun dalam taubatnya dan terbangunlah 3 sendi Ad-Diin, Allah Ta’ala akan memberikan rahmat-Nya. Qalbunya mulai dilimpahkan cahaya iman, dan mulailah ia mendapat petunjuk dari Rabb-nya. Namun bak seorang bayi, ia belum dapat membedakan dan belum dapat mengerti arti dari petunjuk-petunjuk tersebut. Karena demikian banyak petunjuk Allah dalam bentuk amtsal (simbol).

Seorang mursyid adalah seorang salik pula yang lebih dahulu berjalan ditengah malam. Bahkan bukan itu saja seharusnya, seorang mursyid adalah seorang yang diberi hak oleh Allah Ta’ala untuk dapat mentakwilkan petunjuk yang diterima oleh sang murid (salik).

Dengan hal inilah seseorang yang baru menapaki jalan ini (suluk), akan dapat lebih efektif dalam menangkap pesan-pesan ilahiyah yang sampai ke qalbunya. Tidak sedikit seseorang yang berjalan menyusuri gelapnya malam suluk seorang diri, menjadi “gila” atau dikatakan oleh masyarakat umum sebagai kondisi “tidak waras”. Sehingga ketika seorang mulai menjalani olah lahir dan bathin (baca: bukan sekedar belajar tentang tashawwuf), sering diperingatkan oleh orang-orang disekitarnya dengan peringatan-peringatan seperti itu: “Awas nanti gila”, “Awas nanti miring”, dsb.

Kenapa demikian?

Hal ini terjadi, karena dalam tahap-tahap awal suluk yang benar, disamping Allah Ta’ala akan memberikan petunjuk langsung kepada qalbunya, Allah Ta’ala juga akan membongkar semua dosa, hawa nafsu dan syahwat serta obsesi-obsesi yang dibawanya. Dalam proses pembongkaran tersebut, maka hawa nafsu dan syahwat serta obsesi seringkali muncul demikian jelas dan nampak, sehingga seringkali dianggap sebagai petunjuk Allah Ta’ala. Tidak jarang pula syaithan-syaithan mengerubunginya seperti lalat merubungi makanan yang menarik perhatiannya, sehingga mewujud dengan jelas pulalah apa yang ditiupkan oleh syaithan tersebut.

Seorang Mursyid yang diberi hak oleh Allah untuk membimbing seorang manusia menuju Allah, diberi ‘Nur Ilmu’ untuk membantu si salik dalam membedakan mana yang petunjuk Allah, mana yang hawa nafsu atau syahwat atau obsesi dan mana yang dari syaithan. Sedikit demi sedikit seorang salik bayi didampingi oleh sang salik dewasa yang mursyid, tumbuhlah jiwa nya semakin besar dan dewasa. Mulailah akal qalbu (lubb) nya memancarkan cahaya. Mulailah lubb-nya dapat membedakan mana petunjuk Allah dan mana yang bukan.

Namun demikian persis seperti seseorang yang tumbuh, proses tersebut bertahap. Sampai sebuah proses ketika si salik mengenal dirinya, barulah ia dapat dilepas oleh sang Mursyid.
Nur Ilmu adalah buah dari ketaqwaan seseorang.

Pohon taqwa yang subur, akarnya menghujam ke tanah dan rantingnya menjulang ke langit akan berbuah sepanjang musim (QS 14:24-25).

Nur Ilmu adalah cahaya di sebelah kanan, sedangkan Nur Iman adalah cahaya di hadapan (QS 66:8).

Nur Ilmu buat seorang mukmin adalah bagaikan senjata buat seorang prajurit. Pada dasarnya semua manusia yang hadir di dunia ini mempunyai misinya masing-masing. Ketika seorang mengetahui dan berjalan sesuai dengan misi yang telah ditentukan oleh Allah, maka sesungguhnya ia telah menjadi khalifah (wakil) Allah di muka bumi. Dan seorang yang tidak pernah tahu apa misi-nya, sesungguhnya ia tidak dapat dikatakan sebagai khalifah atau perwakilan Allah di muka bumi ini.


Sebagai seorang Prajurit, misinya berbeda-beda. Ada prajurit infanteri, ada prajurit arteleri, ada prajurit kaveleri, dsb. Senjata mereka berbeda-beda. Demikian pula dalam menjalankan misi dari Allah di muka bumi ini. Seseorang akan diberi senjata sesuai dengan bidang misinya masing-masing. Senjata untuk menjalankan misi dari Allah itulah yang disebut “Nur Ilmu”.


Seorang yang diberi misi oleh Allah Ta’ala untuk membimbing manusia dalam menuju-Nya, diberi Nur Ilmu sesuai dengan wilayah tugasnya masing-masing. Walaupun seseorang telah “mengenal dirinya”, namun misinya bukan membimbing manusia, maka dia bukanlah seorang mursyid, karena ia tidak dibekali senjata untuk menjadi mursyid.


Lihatlah bagaimana diantara 4 sahabat utama Nabi SAW, Ali R.A lah sebagai “kunci ilmu”. Dan dari beliaulah bermuara demikian banyak thariqah-thariqah yang sekarang ada. Lihatlah bagaimana dari para wali sanga hanyalah Sunan Ampel dan Kalijaga yang membimbing “suluk” manusia. Karena hanya beliau-beliau lah yang mempunyai tugas sebagai mursyid.


Tidak semua orang shalih yang “mengenal diri” nya adalah mursyid. Bahkan tidak semua wali Allah adalah seorang mursyid. Mursyid adalah sebuah fungsi sedangkan Wali adalah sebuah tingkat jabatan tugas.


Ada seorang Wali yang mursyid, ada seorang wali yang tidak bertugas sebagai mursyid dan banyak mursyid yang tidak dalam tingkatan wali. Seorang wali yang mursyid membawa sebuah thariqah tertentu. Dengan sebuah metoda yang Allah sediakan untuk zaman itu. Untuk itulah kenapa kita mengenal demikian banyak thariqah dalam Islam. Ada thariqah Qadiriyah (Wali Mursyidnya : Syaikh Abdul Qadir Jailani) ada Thariqah Naqsabandiyah, dsb.

Thariqah-thariqah tersebut diturunkan Allah melalui para wali-waliNya sesuai dengan kebutuhan zamannya. Ketika berubah zamannya, maka Allah Ta’ala akan mengutus kembali wali-Nya untuk membawa sebuah metoda mendekatkan diri kepada-Nya. Bahkan untuk zaman ini!


Sebuah pertanyaan, “Bukankah syariah Muhammad telah sempurna, lalu apa yang mereka (para wali yang mursyid tersebut) ajarkan?”


Jawabnya adalah: Dengan hadirnya Muhammad SAW ad-diin telah sempurna. Dan sesungguhnya Ad-Diin bukan hanya syariat lahiriah, tetapi tauhid dan syariah bathiniah.

Ketika pada sebuah zaman, salah satu dari 3 sendi tersebut tanggal, maka Allah Ta’ala akan mengutus utusan-Nya untuk melengkapi hal yang tanggal tersebut.


Sekarang ini memang telah lengkap di hadapan kita syariat Islam yang dibawa Muhammad SAW. Namun seringkali kita tidak sadar bahwa ke-agama-an Muhammad SAW bukan hanya syairat lahiriah tetapi tauhid dan syairat bathiniah. Ketika kita sekarang ini merasakan bahwa ibadah-ibadah ritual kita kering tidak membawa kedekatan kita kepada Allah, walaupun kita rajin dan istiqamah dalam menjalankannya, ini adalah sebuah tanda bahwa ada satu sendi yang tanggal dalam kita beribadah.


Para Wali yang Mursyid tersebut hadir dengan metodaa yang sesuai dengan kondisi zamannya, melengkapi sendi yang hilang dan menghancurkan thaghut yang mengemuka pada zaman itu.


Seperti juga bersekolah, ada tingkatan PMR, SPM, STPM, University, dst. Demikian pula gurunya, ada guru SPM, STM, Diploma, University, dst. Demikianlah mursyid.


Ada seorang mursyid untuk tingkatan PMR, SPM, STPM, Univeristy, dst. Seorang manusia yang mempunyai potensi diri pada tingkatan PMR akan efektif bila dibimbing oleh seorang mursyid yang berada pada tingkatan tersebut. Namun tidak demukian dengan seorang manusia yang mempunyai potensi diri pada tingkatan Universitas, ia tidak akan efektif bila dibimbing oleh seorang mursyid untuk tingkatan SPM.


Namun jangan kuatir. Allah Maha Kuasa. Masing-masing mursyid yang hak tersebut, saling mengenal satu sama lain, dan mengerti dimana tingkat dan posisinya masing-masing. Untuk itu kalau kita membaca kisah-kisah orang shalih pada zaman dahulu, akan terlihat bahwa seorang guru memerintahkan muridnya untuk pindah belajar kepada guru yang lain. Silakan baca kisah-kisah di Buku “Warisan para Awliya”, kita akan mendapatkan gambaran tersebut.

Seorang mursyid yang bukan wali, umumnya hanya meneruskan metoda yang dibawa oleh seorang mursyid yang wali. Namun tidak sedikit sekarang ini “predikat” mursyid diberikan seperti layaknya pemlihan putera mahkota dari seorang raja. Sehingga tidak sedikit sekarang ini mursyid tinggallah sebuah jabatan turun temurun yang hilang dimensi spiritualnya.

Namun juga banyak orang-orang shalih yang disebut oleh murid-muridnya mursyid, namun sesungguhnya bukan bermisi sebagai mursyid, sehingga tidak dilengkapi senjata untuk membimbing manusia menuju-Nya, dan tetap mengajarkan murid-muridnya tentang agama dalam batas hak-haknya karena belum dikenal olehnya seorang Mursyid yang hakiki.


Apakah ada perbedaan antara seorang shalih yang mursyid dengan yang tidak mursyid, dalam interkasinya dengan sang murid?


Jawabnya: Ada, bahkan sangat besar. Seorang shalih yang mursyid dibekali Nur Ilmu oleh Allah dalam membimbing manusia. Sedang seorang shalih yang bukan mursyid tidak.


Bisa saja seorang shalih yang bukan mursyid mentakwilkan petunjuk dari Allah yang diterima oleh sang murid. Dan dapat pula mengklasifikasikan mana yang obsesi, hawa nafsu, syaithan dan mana yang petunjuk. Namun karena ia tidak dilengkapi oleh Allah Ta’ala Nur Ilmu dalam bidang “membimbing”, akan terjadi ia mentakwilkan semua petunjuk tersebut tanpa rambu-rambu. Semua dibuka, sehingga dapat terjadi seorang murid yang belum “kuat” jiwanya, malah akan menjadi sakit dengan takwil tersebut.


Ada terjadi seorang murid mendapatkan petunjuk dari Allah Ta’ala. Kemudian karena kesempatannya yang sempit, ia tidak menanyakan petunjuk tersebut kepada sang Mursyid, namun kepada seorang shalih yang bukan mursyid yang dikenalnya (juga dikenal oleh sang Mursyid). Dengan tanpa beban orang shalih tersebut menjelaskan bahwa petunjuk itu adalah haq dari Allah, dan takwilnya adalah: “Bahwa ia kelak menjadi salah seorang dari Wali Allah”. Padahal jiwa sang murid ini barulah jiwa seorang bayi yang belum dewasa, dan masih rapuh terhadap goncangan kesombongan dan ke-aku-annya. Dan hal itu berakibat cukup fatal dalam proses perjalanannya.


Mungkin apabila ia bertanya kepada sang Mursyid, Sang Mursyid hanya akan mengatakan: “Nanti saja, sekarang ini belum penting untuk kamu”. Hal ini terjadi karena Sang Mursyid diberi perangkat oleh Allah Ta’ala untuk menjelaskan mana yang perlu dan mana yang tidak buat seorang murid.


2. Wakil Allah dalam Bidang Pertaubatan


Kepentingan kita bertemu dengan seorang mursyid yang hakiki yang kedua adalah, bahwa ia adalah seorang yang menjadi wakil Allah Ta’ala dalam bidang pertaubatan.

Kenapa dalam banyak hadits dikatakan bahwa ketika seseorang bertemu dengan Rasulullah SAW, kemudian bersaksi bahwa “Tiada tuhan selain Allah dan Muhammad adalah utusan Allah”, maka kontan dijamin masuk surga? Hal ini karena saat itu Muhammad SAW adalah wakil Allah dalam bidang pertaubatan.


Seseorang yang mengakui Muhammad SAW adalah utusan Allah dan bersedia dalam bimbingannya, maka sesungguhnya Allah Ta’ala yang mendelegasikan “Al Ghafuur”-Nya kepada Muhammad SAW, dan mengampuni dosa-dosa orang tersebut.


Demikian pula ketika kita bertemu dengan seorang Mursyid yang hakiki, kita bersaksi bahwa “Tidak ada Tuhan Selain Allah dan Muhammad adalah Rasulullah”, dan berjanji bahwa mulai saat itu akan menuruti segala perintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya dengan disaksikan oleh seorang wakil-Nya, maka Allah Ta’ala akan mengampuni dosa orang tersebut. Lihatlah QS 2:129, 2:151 dan banyak lagi yang lainnya.


Dan proses pengampunan Allah Ta’ala ini akan demikian dirasakan olehnya sebagai hal yang nyata. Sangat nyata, senyata matahari di siang bolong! Petunjuk langsung yang didengung-dengungkan di Al Qur’an akan diberikan kepada seorang mukmin, akan menjadi bukti, bahwa inilah ayat-ayat Allah.


Kalaulah kita dibimbing oleh seseorang yang dikatakan mursyid, namun sudah setahun bahkan lebih tidak pernah tahu apa itu “fana”, ini adalah sebuah tanda tanya besar, apakah memang ada persoalan dalam diri kita, ataukah ia “mursyid-mursyidan”, atau dia memang seorang shalih namun bukan seorang mursyid.


Baiat atau janji setia pada dasarnya adalah sebuah janji setia diri kita kepada Allah Ta’ala (QS 48:10), untuk bertaubat kepada-Nya. Namun dengan dibawah persaksian seorang wakil-Nya dengan tanpa disaksikan oleh wakil-Nya akan berbeda implikasinya.


Banyak orang yang takut dengan kata “baiat”, karena gambaran-gambaran tentang baiat yang menakutkan. Pada dasarnya baiat adalah janji setia kita kepada Allah, sebagai sebuah persaksian bahwa tiada “ilah” termasuk hawa nafsu dan syahwat kita, kecuali Allah. Sebuah perjanjian bahwa kita bertaubat kepada-Nya. Syairat “baiat” ini sesungguhnya telah ada sejak zaman Nabi Yahya A.S. Orang Yahudi dan Nasarani mengenalnya dengan sebutan Baptis.


Sekarang ini, wajah baiat yang identik dengan pergerakan Islam, dimana orang yang mengundurkan diri dari pembaiatan akan dikejar-kejar bahkan sampai di bunuh, adalah wajah-wajah menakutkan yang menempeli kata baiat.


Padahal dalam terminologi taubat, baiat ini sangat bergantung kepada Allah. Bahkan seorang mursyid yang hakiki benar-benar menyadari, bahwa karena seorang murid berjanji kepada Allah, apabila ia melanggar, maka Allah Ta’ala yang akan menegurnya. Dan apabila mereka memenuhi janjinya maka Allah pun akan memenuhi janji-Nya pula kepada mereka (QS 2:40).


Baiat adalah sebuah perikatan diri kita dengan Allah. Sang Mursyid yang hakiki hanyalah sebagai seorang saksi. Bahkan apabila seorang mengikat sebuah perjanjian kepada Allah dengan disaksikan seorang mursyid yang hak, maka pada penduduk langit akan turun ikut menyaksikannya dengan gembira dan haru. Dan mereka yang akan menjadi saksi bagi kita di Yaumil Akhir nanti.


Kenapa untuk berjanji kepada Allah perlu disaksikan seorang Mursyid? Manusia adalah makhluk lahiriah dan bathiniah. Dan sisi lahiriah kebanyakan manusia jauh lebih kuat dibandingkan sisi bathiniah. Allah Ta’ala mendelegasikan “Al-Ghafuur” nya kepada seorang wakil-Nya, adalah untuk memperkuat keyakinan diri seorang manusia yang lahiriah untuk sedikit demi sedikit terbangun bathiniahnya.


Cobalah apabila kita berinteraksi dengan seorang shalih, yang Allah bukakan “hijab” sehingga terbukalah apa-apa yang kita lakukan apakah itu baik atau buruk baginya. Ketika kita melakukan sebuah kesalahan, dan ada sebuah pertemuan dengan orang shalih tersebut, timbullah “rasa malu” kita kepada orang shalih tersebut. Karena dalam persepsi kita ia tahu apa-apa yang kita lakukan.


Kenapa kita tidak malu kepada Allah, tetapi kepada orang tersebut? Ini adalah sebuah bukti bahwa lahiriah kita masih lebih kuat dari bathiniah kita. Dengan dibimbing seorang mursyid, sedikit demi sedikit dibangunlah bathiniah kita kepada Allah. Bukan lagi sekedar lahiriah.

Yang awalnya timbul rasa malu dsb kepada mursyid kuat, sedikit demi sedikit seharusnya bergeser, timbul rasa malu hanya kepada Allah, bukan lagi kepada seorang manusia.


3. Pendamping Membangun Jiwa dan Penjaga dari Gangguan Syaithan


Fungsi lain seorang mursyid sebagai hak yang Allah Ta’ala berikan kepadanya adalah pendamping membangun jiwa. Ketika seorang murid riyadhah (olah bathin) dalam pendampingan sang mursyid, sesungguhnya secara bathiniah jiwa sang mursyid membantu proses keluarnya jiwa sang murid dari bungkus jasad. Sehingga akan mudah fana’ dalam proses olah bathinnya.


Itulah mengapa ketika zaman Rasulullah SAW, sangat keras memerintahkan orang-orang untuk shalat berjamaah dengannya. Karena sesungguhnya ketika seseorang shalat berjamaah dengan Rasulullah SAW, secara bathiniah jiwa Rasulullah SAW membantu mi’raj-nya jiwa para jamaahnya, sehingga terjadilah proses pembangunan jiwa yang sehat.


Demikian pula dengan fungsi seorang mursyid. Sehingga ada di sebuah thariqah yang murid-muridnya tersebar dan jauh dari sang guru, apabila ingin melakukan riyadhah ia menghubungi terlebih dahulu mursyidnya melalui telephone. Ketika Sang murid pergi ke Australia, dan ia ingin melaksanakan riyadhah, ia terlebih dahulu menelpon sang mursyid di Indonesia. Karena walaupun berbeda tempat jiwa sang mursyid ikut mendampinginya, dan membantunya untuk mi’raj membangun jiwanya.


Sekiranya seseorang menyaksikan, ketika ia sedang sungguh-sungguh menghadapkan wajah kepada Allah Ta’ala untuk bertaubat, sesungguhnya syaithan dan para tentaranya mengintai dengan tajam seluruh aktivitas kita. Ketika lengah ia akan masuk dan meniupkan angan-angan kosong yang dapat menghancurkan jiwanya. Atau bahkan seringkali syaithan beserta pasukannya “memegangi” jiwa orang tersebut agar tidak bisa fana’, sehingga tidak terbangunlah jiwanya. Mursyid akan mendampingin muridnya dari intaian syaithan. Dengan izin Allah Ta’ala ia menjaganya dari serbuan syaithan.


Bahkan ada sebuah thariqah yang dibimbing oleh seorang mursyid, kebanyakan muridnya tidaklah intens dalam berinterkasi dengan alam jin, dsb sebagai sesuatu yang cukup intens ditemui oleh para pejalan ruhani. Namun pengetahuan tentang Al Qur’an demikian dahsyat terbuka bagi mereka.


Hal ini salah satunya disebabkan oleh hak yang diberikan Allah kepada sang Mursyid. Sang Mursyid menjaga murid-muridnya dari hal-hal yang kurang faedahnya untuk suluk (seperti berinteraksi dengan alam jin, mengobati orang sakit, dsb), tetapi membuka hal-hal yang berfaedah untuk suluknya. Sehingga sang murid dipagari agar tidak terperosok hanya berputar-putar di taman bunga, padahal tujuannya masih jauh dari apa yang dijalaninya.

4. Monitoring Umpan Balik Proses Perjalanan

Salah satu Nur Ilmu yang diberikan Allah kepada Sang Mursyid yang hakiki, adalah ia dapat memantau proses perkembangan jiwa murid-muridnya. Naik turunnya bahkan nilai-nilai deskriptifnya. Katakan misalnya nilai puncak adalah 10, sang mursyid mendapatkan pengetahuan pasti bahwa sang murid proses perkembangan jiwanya pada bulan ini adalah 1, bulan berikutnya adalah 2, bulan berikutnya turun ke 0.


Dengan monitoring dan umpan balik inilah seorang murid dapat mawas diri terhadap proses suluknya. Mungkin kita pernah membaca penjelasan Jalaluddin Ar-Rumi dalam bait puisinya. Bahwa orang berjalan jiwanya dari tingkatan mineral, tumbuhan, hewan, manusia, malaikat dst. Ini adalah sebuah parameter-parameter monitoring darinya selaku seorang mursyid yang hakiki.


Mencari Mursyid Yang Hakiki


Sungguh sulit bila ditanya, bagaimana ciri mursyid yang hakiki. Karena setiap zaman berbeda thaghutnya, maka akan berbeda pula karakternya. Dan disinilah filter dari Allah Ta’ala untuk mengklasifikasikan mana orang yang benar menuju keridlaan-Nya dan mana yang tidak.

Satu hal yang tidak boleh hilang dari kita, adalah pengharapan diri kita kepada Allah Ta’ala, dan tulus jalan kita hanya menuju-Nya.


Temuilah orang-orang yang orang katakan sebagai orang shalih. Ikutilah dengan seksama ajaran-ajarannya. Jangan buru-buru menyimpulkan dengan persepsi-persepsi agama kita sekarang, walaupun tampaknya ada dalilnya di Al Qur’an dan Hadits. Tanyakanlah kepadanya apabila ada ketidak mengertian dari kata-kata penjelasannya, dan hubungannya dengan dalil-dalil di Al Qur’an atau Hadits. Jangan takut tersesat, karena apabila tulus tujuan kita kepada-Nya, maka Dialah yang akan menjaga kita.


Selamat mencari…


Aku kutip dari tulisan Saudara Yoedha Pamungkas yang boleh diikuti di
http://tatahati.blogsome.com/2008/11/05/mursyid-dalam-bersuluk/Bottom of Form
(mohon izin berlaku tambahan pada ilustrasi gambar, tulisan dan lain2 bersesuaian di Malaysia)














































Sunday, 28 June 2009

Jagailah 7 anggota itu....


بسم الله الرحمن الرحيم

Pendahuluan


1. Bahawasanya ilmu tasawwuf itu pengetahuan berkenaan dengan kelakuan hati, samada kelakuan yang terpuji seperti merendah diri dan sabar atau kelakuan terkeji dan tercela seperti dengki dan membesar diri.

2. Adapun faedahnya maka menyampaikan ia kepada mengosongkan hati daripada yang lain daripada Allah Taala dan menghiasinya dengan memandang kepada Tuhan sekelian alam.

3. Dan adapun hantarannya maka iaitu hati manusia daripada pihak kelakuan yang datang kepadanya.

4. Maka hukumnya adalah fardhu ain bagi tiap-tiap yang berakal lagi cukup umur.

5. Dan adapun tempat ambilnya daripada Al-Quran yang mulia dan hadith Rasulullah saw.

6. Adapun namanya adalah ilmu tasawwuf.

Maksud ilmu tasawwuf itu sendiri adalah membersihkan segala anggota zahir yang tujuh daripada segala perbuatan keji dan tercela. Tujuh anggota itu adalah:

1. Mata
2. Telinga
3. Lidah
4. Perut
5. Faraj
6. Dua tangan
7. Dua kaki

Hendaklah kita beringat dalam hati bahawasanya Allah Taala telah mengurniakan beberapa nikmat besar iaitu nikmat segala anggota dan wajiblah kita memeliharanya dan mensyukurkannya. Anggota-anggota itu akan diminta menjadi saksi atas segala perbuatan kita semasa hidup di dunia.

Firman Allah dalam surah Yasin:65

اليوم نختم ءلى أفوههم وتكلمنا أيديهم وتسهدأرجلهم بما كانوايكسبون

Maksudnya: Pada hari kiamat dikunci Allah Taala atas segala mulut mereka itu (menegah mulut dari bercakap), berkata-kata akan Allah oleh sekelian tangan mereka dan bersaksi oleh sekelian kaki mereka itu dengan barang yang telah mereka usahakan semasa di dunia.

Maka tiap-tiap anggota bertutur ia dengan kejahatan yang keluar daripadanya. Firman Allah:

وما كنتم تستترون أن يشهدءليكم سمعكم ولآأبصركم ولاجلودكم

Ertinya: Dan tiada ada kamu dahulu di dalam dunia bersembunyi pada ketika mengerjakan kejahatan daripada mensaksikan atas kamu oleh segala telinga kamu dan segala mata kamu dan segala kulit kamu

Dan tidak dapat sembunyi daripada segala saksi ( tujuh anggota) itu melainkan meninggalkan segala kejahatan itu sama sekali kerana tidak bercerai semuanya (anggota itu) dari manusia pada setiap masa dan setiap tempat.

Oleh itu jagailah nikmat anggota-anggota yang Allah kurniakan itu dan mensyukurinya.

Sekian muqadimah dari terjemahan kitab Penawar Bagi Hati.

Wednesday, 17 June 2009

Kitab Al-Mawa'izd AlBadi'ah - Pengajaran ke 31

Pengajaran ke 31 daripada Kitab Al-Mawa'izd AlBadi'ah yang membicarakan tentang peringatan yang indah buat seorang muslim karangan Maulana Syeikh Abdur Rauf Fansuri Aceh atau As-Syeikh Abdur Rauf Ali Fansuri Al-Jawi atau lebih dikenali sebagai As-Syeikh Abdur Rauf Singkeli (Singkel).



Berkata Allah Taala: Hai mereka itu yang percaya akan Allah Taala, takut olehmu akan Allah Taala dengan sebenar2 takut dan jangan kamu mati melainkan pada hal kamu Islam.

(Hai anak Adam), bahawasanya umpama ilmu dengan tiada amal itu seperti halilintar dan kilat dan guruh dengan tiada hujan.

Dan umpama dengan amal tiada ilmu itu umpama pohon kayu dengan tiada berbuah.

Dan umpama ilmu dengan tiada amal itu, seperti busar dengan tiada tali.

Dan umpama harta dengan tiada zakat itu, seperti perhumaan yang baik pada tanah yang lagang, yakni masin atas belakang tanah yang tinggi.

Dan umpama ilmu orang yang kurang akal itu, seperti mutiara dan intan pada leher binatang.

Dan umpama hati yang keras itu, seperti batu yang jatuh ke dalam air.

Dan umpama sedekah daripada harta yang haram itu, seperti orang yang membasuh suatu yang keluar daripada kainnya dengan kemehnya (kencingnya).

Dan umpama sembahyang dengan tiada berair sembahyang itu, seperti tubuh dengan tiada nyawa.

Dan umpama amal dengan tiada taubat itu, seperti rumah dengan tiada tiang.

Maka jangan sentosa kamu akan tipu Allah Taala dan akan lorongnya, maka tiada sentosa akan tipu Allah Taala itu melainkan segala kaum kerugian dan celaka.

Dan katakana olehmu: "hai Tuhan kami, kami aniayai diri kami dan jika tiada Engkau ampun akan kami dan Engkau kasih akan kami sanya adalah kami itu daripada segala orang yang kerugian."

Wednesday, 10 June 2009

Mutiara kata Imam Habib Abdullah Haddad

Berusahalah dengan besungguh2 pada mencahayakan hatimu dan kubormu itu.
Hati itu dicahayakan dengan amalan2 batin yang soleh. Kubor pula dicahayakan dengan amalan2 zaher yang soleh. Sedangkan ikhlas itu adalah syarat bagi semua amalan, tanpanya tidak dapat dikira amalan dan tidak punya buahnya.

Berbuat baik kepada sesiapa yang berbuat jahat kepadamu adalah lebih sempurna dari berbuat baik kepada siapa yang berbuat baik kepadamu, dan mendahulukan kebaikan kepada sesiapa yang berbuat baik kepadamu adalah lebih utama.

Dalam mengamalkan wirid oleh seorang murid itu terdapat semacam riadhah, dan dalam wirid juga seorang 'Arif akan memperolehi keberkatan yang banyak dan tingkatannya berbanding dengan warid umpama martabat jasad dengan roh.

Orang yang tidor harus dikejutkan,
Orang yang lalai harus diingatkan.
Siapa yang tidak dikesankan padanya kejutan dan peringatan, maka ia sebenarnya orang yang sudah mati. Kerana bicara nasihat itu hanya berguna bagi orang yang menyambut dengan hatinya, bukankah Tuhan telah berfirman: "Tiadalah yang mengambil pelajaran kecuali orang yang kembali kepada Allah."

Friday, 5 June 2009

Sebuah penerbangan 747 ke destini al-Barzakh


Dari milis Fisopat, kiriman saudara Luki Setadi. (Maaf ada sedikit perubahan..izinkan)
INFORMASI PENERBANGAN 747 AL-JENAZAH AIRLINES LAYANAN PENUH 24 JAM


Bila kita akan 'berangkat" dari alam ini ia ibarat penerbangan ke sebuah negara. Dimana informasi tentangnya tidak terdapat dalam brosur penerbangan, tetapi melalui Al-Qur'an dan Al-Hadist.


Dimana penerbangan bukannya dengan Malaysia Airlines, Singapore Airlines, atau Garuda Airlines, tetapi Al-Jenazah Airlines.

Dimana bekal kita bukan lagi tas seberat 23Kg,
tetapi amalan yang tak lebih dan tak kurang.

Dimana bajunya bukan lagi Pierre Cardin, atau setaraf dengannya,
akan tetapi kain kafan putih.

Dimana pewanginya bukan Channel atau Polo ataupun Poison,
tetapi air biasa yang suci.

Dimana passport kita bukan Malaysia , Indonesia atau American,
tetapi Al-Islam.
Dimana visa kita bukan lagi sekedar 6 bulan,
tetapi 'Laailaahaillallah'

Dimana pelayannya bukan pramugari jelita,
tetapi Izrail dan lain-lain.

Dimana servisnya bukan lagi kelas business atau ekonomi,
tetapi sekedar kain yang diwangikan.

Dimana tujuan mendarat bukannya Kuala Lumpur, Jakarta
atau Jeddah International, tetapi tanah perkuburan.

Dimana ruang menunggunya bukan lagi ruangan berAC dan permadani,
tetapi ruang 4x7 kaki, gelap gulita.

Dimana pegawai imigrasi adalah Munkar dan Nakir,
mereka hanya memeriksa apakah kita layak ke tujuan yang diidamkan.
Dimana lapangan terbang transitnya adalah AlBarzah

Dimana tujuan terakhir apakah Syurga
yang mengalir sungai di bawahnya atau Neraka Jahannam.

Penerbangan ini tidak akan disabotaj atau dibom,
karena itu tak perlu dibimbangi.

Sajian tidak akan disediakan, oleh karena itu tidak perlu merisaukan
masalah alergi atau halal haram makanannya.

Jangan risaukan tangguhan, pembatalan, atau kelewatan
kerana penerbangan ini senantiasa tepat waktunya,
ia berangkat dan tiba tepat pada masanya tanpa tertangguh seminit jua

Jangan pikirkan tentang hiburan dalam penerbangan,
kerana anda telah hilang selera bersuka ria.

Jangan bimbang tentang pembelian tiket,
ianya telah siap di booking sejak anda ditiupkan ruh didalam rahim ibu.

YA! BERITA BAIK!! Jangan bimbangkan siapa yang duduk bersebelahan anda.
Anda adalah satu-satunya penumpang penerbangan ini.

Oleh karena itu bergembiralah selagi bisa! Dan sekiranya anda bisa!

Hanya ingat! Penerbangan ini datang tanpa' Pemberitahuan' .

Cuma perlu ingat!! Nama anda telah tertulis dalam tiket untuk Penerbangan.

... Saat penerbangan anda berangkat... tanpa doa Bismillahi Tawakkaltu 'Alallah, atau ungkapan selamat jalan. Tetapi Innalillaahi Wa Inna ilaihi Raaji'uun....

Anda berangkat pulang ke Rahmatullah. Mati.

ADAKAH KITA TELAH SIAP UNTUK BERANGKAT? '

Orang yang cerdas adalah orang yang mengingat kematian. Karena dengan kecerdasannya dia akan mempersiapkan segala perbekalan untuk menghadapinya.

' ASTAGHFIRULLAH 3X, semoga ALLAH SWT mengampuni kita beserta keluarga... Amii.

WALLAHU A'LAM

Catatan: Penerbangan ini berlaku untuk segala umur...tanpa kecuali, maka perbekalan lebih baik dipersiapsediakan.....sangat tidak bijak dan tidak cerdas bagi yang menunda-nunda mempersiapkan perbekalannya.

Yang Akan Ikut Mayat Adalah Tiga perkara yaitu:
1. Doa Keluarga 2. Hartanya 3. Amalnya

Ada Dua Yang Kembali Dan Satu akan Tinggal Bersamanya yaitu; 1. Keluarga dan Hartanya Akan Kembali 2. Segala Amalnya Akan Tinggal Bersamanya.

Maka ketika Roh Meninggalkan Jasad...Terdengarlah Suara Dari Langit Memekik,

"Wahai Fulan Anak Si Fulan..
Apakah Kau Yang Telah Meninggalkan Dunia, Atau Dunia Yang Meninggalkanmu

Apakah Kau Yang Telah Menumpuk Harta Kekayaan,
Atau Kekayaan Yang Telah Menumpukmu

Apakah Kau Yang Telah Menumpuk Dunia,
Atau Dunia Yang Telah Menumpukmu

Apakah Kau Yang Telah Mengubur Dunia,
Atau Dunia Yang Telah Menguburmu.

"Ketika Mayat Tergeletak Akan Dimandikan.. ..Terdengar Dari Langit Suara Memekik,

"Wahai Fulan Anak Si Fulan...
Mana Badanmu Yang Dahulunya Kuat, Mengapa Kini Terkulai Lemah
Mana Lisanmu Yang Dahulunya Fasih, Mengapa Kini Bungkam Tak Bersuara

Mana Telingamu Yang Dahulunya Mendengar, Mengapa Kini Tuli Seribu Bahasa

Mana Sahabat-Sahabatmu Yang Dahulunya Setia, Mengapa Kini Ghaib Tak Bersuara.

"Ketika Mayat Siap Dikafan...
Suara Dari Langit Terdengar Memekik,
"Wahai Fulan Anak Si Fulan
Berbahagialah Apabila Kau Bersahabat Dengan Ridha
Dan Celakalah Apabila Kau Bersahabat Dengan Murka Allah .

"Wahai Fulan Anak Si Fulan...
Kini Kau Tengah Berada Dalam Sebuah Perjalanan
Nun Jauh Tanpa Bekal Kau Telah Keluar Dari Rumahmu
Dan Tidak Akan Kembali Selamanya

Kini Kau Tengah Safar Pada Sebuah Tujuan Yang Penuh Pertanyaan.

Ketika Mayat Diusung.... Terdengar Dari Langit Suara Memekik,

"Wahai Fulan Anak Si Fulan..
Berbahagialah Apabila Amalmu Adalah Kebajikan

Berbahagialah Apabila Matimu Diawali Taubat

Berbahagialah Apabila Hidupmu Penuh Dengan Taat.

Ketika Mayat Siap Dishalatkan. ...Terdengar Dari Langit Suara Memekik,
"Wahai Fulan Anak Si Fulan..
Setiap Pekerjaan Yang Kau Lakukan Kelak Kau Lihat Hasilnya Di Akhirat

Apabila Baik Maka Kau Akan Melihatnya Baik
Apabila Buruk, Kau Akan Melihatnya Buruk."

Ketika Mayat Dibaringkan Di LiangLahat....terdengar Suara Memekik Dari Langit,

"Wahai Fulan Anak Si Fulan...
Apa Yang Telah Kau Siapkan Dari Rumahmu Yang Luas
Di Dunia Untuk Kehidupan Yang Penuh Gelap Gulita

Di Sini Wahai Fulan Anak Si Fulan...
Dahulu Kau Tertawa, Kini Dalam Perutku Kau Menangis

Dahulu Kau Bergembira, Kini Dalam Perutku Kau Berduka

Dahulu Kau Bertutur Kata, Kini Dalam Perutku Kau Bungkam Seribu Bahasa.

"Ketika Semua Manusia Meninggalkannya.. Sendirian... .
Allah Berkata Kepadanya, "Wahai Hamba-Ku....
Kini Kau Tinggal Seorang Diri Tiada Teman Dan Tiada Kerabat

Di Sebuah Tempat Kecil, Sempit Dan Gelap..
Mereka Pergi Meninggalkanmu. Tingglalh Kau Seorang Diri

Padahal, Karena Mereka Kau Pernah Langgar Perintahku

Hari Ini,.... Akan Kutunjukan Kepadamu kasih Sayang-Ku Yang Akan Takjub Seisi Alam

Aku Akan Menyayangimu Lebih Dari Kasih Sayang Seorang Ibu Pada Anaknya.

Kepada Jiwa-Jiwa Yang Tenang Allah Berfirman,
"Wahai Jiwa Yang Tenang Kembalilah Kepada Tuhanmu Dengan Hati Yang Puas Lagi Diridhai-Nya. Maka Masuklah Ke Dalam Jamaah Hamba-Hamba-Ku Dan Masuklah Ke Dalam Jannah-Ku"
Renungilah dan ingatlah selalu akan perjalanan jauh yang wajib ditempuh setiap bernama manusia ini. Pesanan hanya di sini kerana di sana sudah tiada lagi.

Monday, 1 June 2009

Antara kata2 Sayidina Ali ra ..

Sayidina Ali bin Abi Talib adalah anak sedara kepada Nabi saw, suami kepada puteri baginda Sayyidatina Fatimah dan bapa kepada cucu-cucu kesayangan baginda, Sayidina Hasan dan Husin r.anhuma.

Sayidina Ali termasuk di kalangan ahlulbait dan terkenal juga sebagai sahabat-sahabat Nabi yang empat. Sejak kecil tinggal bersama Nabi dan merupakan kanak2 pertama memeluk Islam. Ditarbiyyahkan oleh Nabi hingga dewasa sehingga diterima menjadi menantu Nabi beribukan Sayidatina Khatijah Binti Khuwalid. Diberi gelaran karamallahu wajhah kerana tidak pernah menyembah berhala sepanjang hidupnya.

Beliau bersifat tawadhu dan tidak suka meminta-minta serta maher bermain senjata. Ketinggian ilmunya telah disaksikan oleh Nabi sendiri yang mengibaratkannya (baginda) sebagai gedung dan kuncinya adalah Sayidina Ali. Begitu hebatnya ilmu yang dianugerahkan Allah pada Sayidina Ali sehingga ada yang melebih2kanya dengan ilmu hikmat.

Dengan ilmunya Sayidina Ali ra pernah mengatakan "Tiada kekayaan yang lebih utama dari akal. Tiada kepapaan yang lebih menyedihkan daripada kebodohan. Tiada warisan yang lebih baik daripada pendidikan."

Ketika ditanya tentang mana yang lebih utama antara ilmu dengan harta , Sayidina Ali ra menyatakan:

"Ilmu lebih utama daripada harta, kerana ilmu adalah pusaka para nabi, sedang harta adalah pusaka Karun, Fir’aun, dan para pengumbar nafsu."

"Ilmu lebih utama daripada harta, karena ilmu itu akan menjagamu sedangkan harta malah engkau yang harus menjaganya."

"Harta itu jika engkau belanjakan menjadi berkurang, sebaliknya ilmu jika engkau gunakan malahan bertambah kerana ia akan menolongmu."

"Pemilik harta disebut dengan nama bakhil (kikir) dan buruk, tetapi pemilik ilmu disebut dengan nama keagungan dan kemuliaan."

"Pemilik harta itu ramai musuhnya, sedangkan pemilik ilmu temannya banyak."

"Ilmu lebih utama daripada harta, karena di akhirat nanti pemilik harta akan dihisab sedangkan orang berilmu akan memperoleh syafa’at."

"Harta akan hancur berantakan karena lama ditimbun zaman, tetapi ilmu tak akan rusak dan musnah walau ditimbun zaman."

"Harta membuat hati seseorang menjadi keras, sedang ilmu malah membuat hati menjadi bercahaya."

"Ilmu lebih utama daripada harta, karena pemilik harta bisa mengaku menjadi Tuhan akibat harta yang dimilikinya, sedang orang yang berilmu justru mengaku sebagai hamba karena ilmunya."

Begitulah ketinggian ilmunya kalau diperhatikan baris2 ayat yang digunakan dan maksud2 yang tersirat disebaliknya. Benarlah Sayidina Ali itu mewarisi "ilmu hikmat".

Saturday, 30 May 2009

DIA yang tidak dikenal sebagaimana mestinya

by Ishak for everyone



Dan mereka tidak menghormati Allah dengan penghormatan yang semestinya...(QS Al An’Am : 91)

Di dalam sebuah tafsir dijelaskan bahwa ayat tersebut bermakna “Mereka tidak mengenal Allah (makrifat) sebagaimana seharusnya Dia dikenal.”

Diriwayatkan dari Aisyah ra., bahwa Nabi saw bersabda, “Pondasi sebuah rumah adalah dasarnya. Pondasi agama adalah pengenalan kepada Allah swt, yakin, dan akal yang teguh.”

Aisyah lalu bertanya, “Demi ayah dan ibuku, menjadi tebusanmu, apakah akal yang teguh itu ?” Beliau menjawab, “Menjaga dari maksiat terhadap Allah dan bersemangat dalam mentaati Allah swt. (Dikeluarkan oleh ad-Dailamy, dari Aisyah ra.)

Imam Al Qusyairi mengatakan bahwa ditinjau dari segi bahasa, para ulama mengartikan makrifat sebagai ilmu. Semua ilmu adalah makrifat, dan semua makrifat adalah ilmu.

Hal itu berarti setiap orang yang mempunyai ilmu (‘alim) tentang Allah swt, berarti seorang yang arif.

Di kalangan para sufi, makrifat adalah sifat dari orang yang mengenal Allah swt, melalui nama-nama dan sifat-sifat-Nya dan berlaku tulus kepada Allah swt dalam muamalatnya, kemudian menyucikan dirinya dari sifat-sifat yang rendah dan cacat, yang terpaku lama di pintu (ruhani), dan yang senantiasa i’tikaf dalam hatinya. Kemudian dia menikmati keindahan dekat hadirat-Nya, yang mengukuhkan ketulusan dalam semua keadaannya. Memutuskan segala kekotoran jiwanya, dan dia tidak mencondongkan hatinya kepada pikiran apapun selain Allah, sehingga ia menjadi orang asing di kalangan makhluk. Ia menjadi bebas dari bencana dirinya, bersih dan tenang, senantiasa abadi dalam sukacita bersama Allah swt, dalam munajatnya. Di setiap detik senantiasa kembali kepada-Nya, senantiasa berbicara dari sisi Al-Haq melalui pengenalan rahasia-rahasia-Nya.

Dan ketika Allah swt, mengilhaminya dengan membuatnya menyadari rahasia-rahasia-Nya akan takdirnya, maka pada saat itu ia disebut orang arif, dan keadaannya disebut ma’rifat. Jelasnya, frekuensi keterasingannya terhadap dirinya sendiri (dan seluruh makhluk yang ada) semata karena sukses ma’rifatnya kepada Allah swt.

Beberapa orang shaleh berbicara mengenai ma’rifat dan ahlinya (orang arif) sebagai berikut :

Syaikh abu Ali ad-Daqqaq berkata, “Salah satu tanda ma’rifat adalah munculnya haibah (rasa takut disertai penghormatan yang luar biasa / gentar) dari Allah swt. Barang siapa bertambah makrifatnya, maka bertambah pula haibah-nya. Saya juga mendengar, beliau juga menyatakan, “makrifat membawa ketenteraman dalam hati sebagaimana pengetahuan membawa kedamaian. Jadi, orang yang makrifatnya bertambah, maka bertambah pula ketenteramannya.

Asy-Syibly berkata, “Bagi sang arif tidak ada keterikatan, bagi sang pencinta tidak ada keluhan, bagi sang hamba tidak ada tuntutan, bagi orang yang takut kepada Allah tidak ada tempat yang aman (dari-Nya), dan bagi setiap orang tidak ada jalan lari dari Allah.”

Al Junayd menyatakan, “Seorang arif tidak akan menjadi ‘arif sampai dia menjadi seperti bumi : diinjak oleh orang yang baik maupun yang jahat, dan sampai dia menjadi seperti awan : menaungi semua makhluk, dan sampai dia menjadi seperti hujan : menyirami segala sesuatu, baik yang mencintainya maupun yang membencinya.

Yusuf bin Ali menegaskan, “Seorang tidak akan menjadi ‘arif sejati sampai seandainya kerajaan Sulaiman as., diberikan kepadanya, maka kerajaan itu tidak akan memalingkan perhatiannya sekejap mata pun dari Allah swt.

Dzun Nuun al-Mishry ditanya, “Dengan apa engkau mengenal Tuhanmu ?” Dia menjawab, “Aku mengenal Tuhanku dengan Tuhanku. Kalaulah tidak karena Tuhanku, niscaya aku tidak akan mengenal Tuhanku.

Asy-Syobly mengatakan, “Sang arif tidaklah berurusan selain dengan Dia. Dan tidak pula dia berbicara dengan pembicaraan tentang sesuatu selain-Nya, dan tidak melihat satu pelindung pun bagi dirinya selain Allah swt.

Dikatakan, “sang arif memperoleh kesenangan dengan dizikir kepada Allah swt dan ditakuti oleh makhluk-Nya. Dia membutuhkan Allah swt., Dia membuatnya tidak butuh kepada makhluk. Sang arif selalu merasa hina dihadapkan Allah swt, lantas Allah memuliakannya dihadapkan makhluk-Nya.

Abu ath-Tahyyib as-Samari mengatakan, “Ma’rifat adalah munculnya Al Haq di lembah batin melalui cahaya yang terus menerus memancar.

Al Junayd mengatakan, “Seorang arif adalah yang berbicara haq dari batinnya, sedangkan ia sendiri dalam keadaan diam.

Dun Nuun al Mishry mengatakan, “tanda seorang arif ada tiga : Cahaya ma’rifatnya tidak meniup cahaya wara-nya, dia tidak percaya pada pengetahuan batin apabila merusak hukum-hukum lahir, dan melimpahnya rahmat Allah swt kepadanya tidak mendorongnya untuk merobek tirai yang menutupi kehormatan Allah swt.

Dikatakan, “orang yang arif bukanlah orang yang berbicara tentang makrifat di hadapan generasi akhirat, dan lebih-lebih lagi bukan arif jika dia berbicara tentang hal itu di hadapan orang yang terikat pada dunia.

Muhammad Ibnu Fadhl berkata, “makrifat adalah hidupnya hati bersama Allah swt.

Mungkin inilah arti sabda Nabi saw :Aku tak bisa memuji-Mu sepenuhnya (HR. Baihaqi)